Sabtu, 20 Februari 2010

TERAPI IMPOTENSI (1)

Terapi Impotensi
Ada kabar baik bagi para pria mengidap impotensi. Tak lama lagi, kemungkinan bakal hadir suatu terapi alternatif mengatasi problem disfungsi ereksi. Terapi Impotensi ini tak mustahil akan menjadi pilihan para pria selain daripada mengonsumsi pil biru.

Para ahli di Israel berhasil mengembangkan terapi gelombang listrik yang diharapkan dapat menjadi solusi mengatasi problem seksual kaum Adam tanpa obat-obatan. Eksperimen menunjukkan, gelombang listrik yang dialirkan ke penis dapat membantu menyembuhkan disfungsi ereksi.
"Kita bisa benar-benar menyembuhkan masalah ereksi (impotensi) dengan terapi ini," ujar Yoram Vardi dari departemen neuro-urologi dari Rambam Medical Center, di Haifa, Israel.
"Biasanya pasien disfungsi ereksi bisa kembali berfungsi dengan meminum Viagra atau Cialis, tapi keduanya bukan solusi - ketika pemakaian terhenti mereka tak bisa berfungsi lagi," tambahnya.
"Sejauh ini baru penelitian awal, tapi dengan terapi gelombang listrik kami dapat memberi penyelesaian biologis pada masalah ini, sehingga setelah terapi pasien bisa berfungsi lagi tanpa bantuan obat."
Percobaan pada hewan menunjukkan, gelombang listrik terbukti merangsang pertumbuhan pembuluh darah baru pada pembuluh yang sudah ada. Vardi dan para koleganya berspekulasi bahwa terapi gelombang listrik bisa membantu pria yang disfungsi ereksinya disebabkan oleh rendahnya aliran darah ke organ intim pria.
"80 persen penyebab disfungsi ereksi masalah kardiovaskular, jadi jumlah pasiennya besar sekali," tutur Vardi.
Pasien disengat Listrik
Dalam studinya, peneliti merawat 20 sukarelawan yang rata-rata berusia 56 tahun yang mengalami disfungsi ereksi tingkat ringan atau menengah selama tiga tahun.
Pada tiap sesi, alat yang mirip mouse komputer mengalirkan listrik pada lima titik pada penis mereka.
"Ini merupakan gelombang listrik yang sangat sangat rendah," kata Vardi.
Tiap gelombang hanya memberi tekanan sekitar 100 bar - kira-kira 20 kali dari tekanan udara dalam botol sampanye, tapi tak lebih dari tekanan yang disebabkan wanita bersepatu hak tinggi dan berbobot 60 kg.
"Energi jenis ini sama sekali berbeda dibanding energi dari pijatan, walaupun tiap orang nantinya bisa menyetel sesuai keinginan," kata Vardi.
Tiap titik pada penis menerima sekitar 300 gelombang listrik dalam tiga menit. Para pria menjalani dua sesi mingguan selama tiga minggu, dan kemudian mengulanginya lagi setelah senggang tiga minggu. Kemajuan pesat terlihat pada 15 dari 20 pria.
"Kami tak menemukan efek samping, dan sama sekali tak sakit," kata Vardi.
Walaupun penelitian lanjutan mendukung hasil ini, Vardi memperingatkan temuan ini bukanlah penyelesaian universal. Para peneliti memilih pria-pria yang masalah ereksinya bersumber dari masalah aliran darah, dan bukan kelainan pada syaraf, otot, atau masalah lainnya.
Penelitian lebih luas
Para peneliti kini memperluas riset mereka dengan meneliti kelompok plasebo (kelompok yang hanya dicoba diberi obat tipuan) dan pada lebih banyak pasien lagi.
"Ini baru awal. Kami perlu memahami lebih lanjut apa yang sedang terjadi," kata Vardi.
"Kami juga perlu melihat seberapa lama respon ini bertahan - apakah selamanya, satu tahun, dua tahun, enam bulan? Sejauh ini kami melihat bahwa hasilnya bertahan selama tiga bulan."
Vardi dan para koleganya menjabarkan detil penemuan mereka tanggal 17 November, pada rapat Persatuan Pengobatan Masalah Seksual Eropa, di Lyon, Prancis.